
Bila Kita Ingin jalan - jalan Ke bali Tidak ada salahnya Bila Kita mengenal Dahulu adat istiadat masyarakat Bali,Masyarakat Bali merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda, dengan
satu hari penuh keheningan, yang disebut Nyepi. Nyepi adalah sebuah
upacara tradisional keagamaan di Bali yang dilaksanakan hampir oleh
semua masyarakatnya di pulau ini. Pulau Bali memiliki siklus waktunya
sendiri. Uniknya, siklus waktu ini dilaksanakan dalam dua siklus
kalender paralel: sistem Pawukon dan kalender Saka, yang siklusnya
saling berhubungan satu sama lainnya, masing-masing mendefinisikan hari
yang baik dan kurang baik. Pawukon adalah sistem 210 hari kalender
dengan siklus 30 hari tujuh minggu (wuku). Yang lainnya adalah kalender
yang diyakini berasal dari tahun 78 Masehi dari dinasti Saka oleh raja
Kanishka di India. Menurut tradisi, kalender ini kemudian dibawa ke Jawa
dan disebarkan ke Bali oleh seorang Brahmana suci, Sang Hyang Aji Saka.
Kalender Saka Bali tidak sama persis dengan kalender Saka dari India,
namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan
elemen-elemen lokal. Kalender ini menggunakan perhitungan berdasarkan
posisi matahari dan bulan. Tahun baru untuk kalender Saka Bali,
diperingati sebagai hari raya Nyepi.
Nyepi memang harus dipahami dalam kerangka Agama Hindu, yaitu tujuan
akhir dari manusia adalah untuk menghentikan siklus Samsara atau
reinkarnasi dan menyatu ke dalam kekosongan total atau Sunya. Nyepi
adalah ritual simbolis dari usaha mencapai Sunya ini. Pada hari ini,
semua tanda-tanda kehidupan dikuburkan untuk memulihkan rasa kemurnian,
di mana setiap orang dapat memahami makna dari kehidupan. Udara segar,
suara alam, dan membebaskan diri dari kompleksitas kehidupan modern.
Nyepi adalah tentang hubungan sederhana antara manusia, alam, dan Tuhan.
Menikmati suasana sepi di sekitar yang satu-satunya hanya bisa
didapatkan di Bali setahun sekali. Selama hari ini hanya Rumah Sakit,
kantor polisi, dan hotel yang aktif. Bahkan bandara dan pelabuhan
ditutup pada hari ini. Anda tidak akan dapat menemukan pengalaman ini di
manapun di belahan dunia ini, hanya di Bali.
Sebelum Nyepi, sebuah Tawur besar (upacara pembersihan) dilakukan.
Tepat pada malam sebelum Nyepi, semua ogoh-ogoh yang merupakan
simbolisasi setan di Bali diarak di jalan-jalan. Acara ini disebut
Ngrupuk, adalah hal sebaliknya dari Nyepi. Bertentangan dengan
keheningan, semua kebisingan dibuat pada hari ini. Hal ini merupakan
ritual simbolisasi pelepasan kekuatan jahat. Tempat terbaik untuk
menonton ogoh-ogoh adalah di jalan Gajah Mada dan alun-alun Puputan
Badung (Denpasar). Tepat pada malam harinya, di kuburan-kuburan lokal
setempat ogoh-ogoh tersebut akan dibakar. Dunia kemudian akan kembali
murni dan semuanya akan mulai lagi setelah seharian penuh melaksanakan
amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak keluar
pekarangan), amati geni (tidak menyalakan api atau penerangan), dan
amati karya (tidak bekerja).