Jumat, 16 November 2012

Menikmati Indahnya Nyepi Adat Bali

Bila Kita Ingin  jalan - jalan  Ke bali Tidak ada salahnya Bila Kita mengenal Dahulu adat istiadat masyarakat Bali,Masyarakat Bali merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda, dengan satu hari penuh keheningan, yang disebut Nyepi. Nyepi adalah sebuah upacara tradisional keagamaan di Bali yang dilaksanakan hampir oleh semua masyarakatnya di pulau ini. Pulau Bali memiliki siklus waktunya sendiri. Uniknya, siklus waktu ini dilaksanakan dalam dua siklus kalender paralel: sistem Pawukon dan kalender Saka, yang siklusnya saling berhubungan satu sama lainnya, masing-masing mendefinisikan hari yang baik dan kurang baik. Pawukon adalah sistem 210 hari kalender dengan siklus 30 hari tujuh minggu (wuku). Yang lainnya adalah kalender yang diyakini berasal dari tahun 78 Masehi dari dinasti Saka oleh raja Kanishka di India. Menurut tradisi, kalender ini kemudian dibawa ke Jawa dan disebarkan ke Bali oleh seorang Brahmana suci, Sang Hyang Aji Saka. Kalender Saka Bali tidak sama persis dengan kalender Saka dari India, namun kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal. Kalender ini menggunakan perhitungan berdasarkan posisi matahari dan bulan. Tahun baru untuk kalender Saka Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi.
Nyepi memang harus dipahami dalam kerangka Agama Hindu, yaitu tujuan akhir dari manusia adalah untuk menghentikan siklus Samsara atau reinkarnasi dan menyatu ke dalam kekosongan total atau Sunya. Nyepi adalah ritual simbolis dari usaha mencapai Sunya ini. Pada hari ini, semua tanda-tanda kehidupan dikuburkan untuk memulihkan rasa kemurnian, di mana setiap orang dapat memahami makna dari kehidupan. Udara segar, suara alam, dan membebaskan diri dari kompleksitas kehidupan modern. Nyepi adalah tentang hubungan sederhana antara manusia, alam, dan Tuhan. Menikmati suasana sepi di sekitar yang satu-satunya hanya bisa didapatkan di Bali setahun sekali. Selama hari ini hanya Rumah Sakit, kantor polisi, dan hotel yang aktif. Bahkan bandara dan pelabuhan ditutup pada hari ini. Anda tidak akan dapat menemukan pengalaman ini di manapun di belahan dunia ini, hanya di Bali.
Sebelum Nyepi, sebuah Tawur besar (upacara pembersihan) dilakukan. Tepat pada malam sebelum Nyepi, semua ogoh-ogoh yang merupakan simbolisasi setan di Bali diarak di jalan-jalan. Acara ini disebut Ngrupuk, adalah hal sebaliknya dari Nyepi. Bertentangan dengan keheningan, semua kebisingan dibuat pada hari ini. Hal ini merupakan ritual simbolisasi pelepasan kekuatan jahat. Tempat terbaik untuk menonton ogoh-ogoh adalah di jalan Gajah Mada dan alun-alun Puputan Badung (Denpasar). Tepat pada malam harinya, di kuburan-kuburan lokal setempat ogoh-ogoh tersebut akan dibakar. Dunia kemudian akan kembali murni dan semuanya akan mulai lagi setelah seharian penuh melaksanakan amati lelanguan (tidak bersenang-senang), amati lelungan (tidak keluar pekarangan), amati geni (tidak menyalakan api atau penerangan), dan amati karya (tidak bekerja).

0 komentar:

Posting Komentar